>Tips Mendidik Anak


>

Menghadapi perilaku anak yang bermacam-macam membuat kita sebagai orang tua harus berpikir berkeliling-keliling. Ketika melihat tingkah laku anak-anak yang lucu dan menggemaskan bisa membuat kita senang, tertawa dan bahagia. Namun kadang-kadang sebagai orang tua kita menjadi kewalahan menghadapi perilaku anak-anak kita yang sulit diatur dan maunya hanya mengikuti kemauannya sendiri. Bahkan seringkali orang tua kehilangan akal sampai menggunakan cara-cara kekerasan baik kekerasan verbal (membentak, memarahi) maupun kekerasan fisik (memukul, mencubit) demi mendisiplinkan anak.

Kemarahan pada orang tua sebagian besar dikarenakan ketidaksesuaian antara perilaku anak dengan harapan orang tua. Ketika orang tua sibuk melakukan sesuatu dan seperti mengabaikan, pasti ada saja ulah yang dilakukan anak-anak untuk menarik perhatian ibu atau ayahnya. Dan itu biasanya berupa perbuatan yang kurang amenyenangkan atau menjengkelkan, sehingga biasanya amarah orang tua pun terpancing. Harapan orang tua adalah anak bisa bermain sendiri karena sudah dibelikan berbagai macam permainan agar tidak mengganggu orang tuanya yang sedang bekerja. Namun kenyataannya anak tetap saja mengganggu orang tuanya yang sedang bekerja

Kejengkelan-kejengkelan orang tua yang terjadi berulang-ulang membuat orang tua marah dan memancing kata-kata kemarahan yang keluar dari mulut orangtua. Misalnya “dasar anak nakal” atau “kamu ini memang tidak bisa dibilangin, mama cubit ya kamu”. Ucapan seperti itu, selain tidak ada gunanya karena tidak akan memperbaiki tingkah laku anak, juga membentuk konsep diri negatif pada anak. Para orang tua jangan pernah mengira kalau anak tidak mengerti kemarahan tersebut, mereka hanya tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata. Akan tetapi ucapan-ucapan negatif yang ditujukan kepada mereka jelas sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa mereka.

Berdasarkan penelitian di bidang Neurologi, ternyata anak-anak yang seringkali mendapatkan label/ucapan yang negatif, teriakan atau bentakan dari lingkungannya, maka batang otak si anak akan mengalami pembengkakan yang akan menekan sistem limbik yang sangat berperan dalam mengendalikan emosi. Karena itu, tidak heran bila anak-anak yang kerap kali mendapatkan label negatif, bentakan dan teriakan apalagi dengan hukuman fisik, maka kelak ia akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi serta dalam membentuk konsep diri yg positif. Hal inilah yg sebaiknya perlu disadari oleh kita para orang tua agar bersedia untuk berubah dan belajar mengatur serta mengendalikan emosi dengan lebih baik lagi.

Berkaitan dengan perilaku anak-anak yang lebih tertarik dengan barang-barang rumah tangga daripada mainannya sendiri. Kemungkinan yang terjadi adalah anak-anak merasa bosan dengan mainannya sendiri, setiap hari mereka bertemu dengan mainan yang sama dan harus bermain sendiri. Sehingga yang terjadi anak akan mencari sesuatu yang baru dan menarik bagi anak dan engan berbagai cara serta tingkah lakunya, mereka akan terus berusaha mendapatkannya.

Karakteristik anak usia 0-5 tahun adalah sebagai berikut:
Anak-anak banyak belajar untuk mengeksplorasi dari lingkungannya. Dikarenakan rasa ingin tahunya yang tinggi membuatnya selalu ingin bergerak aktif untuk bisa memenuhinya. Sesuai dengan perkembangan fisiknya ini, anak pun mulai berinteraksi dengan lingkungan. Misalnya, ia mulai bermain dengan benda di sekitarnya atau memberi tanggapan pada kita. Pada tahap ini anak pun mulai menunjukkan keinginan untuk menyentuh, menggenggam ataupun memiliki sesuatu yang dilihatnya. Selain itu anak-anak juga mulai untuk mengembangkan otonomi dirinya sehingga perilaku yang tampak adalah anak terlihat sangat egois, susah diatur, semaunya sendiri, mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi dikarenakan adanya aturan, batasan dan larangan. Disinilah awal dari ketegangan antara orang tua dan anak sekaligus permulaan dari mulai diterapkannya disiplin.
Begitu juga ketika anak-anak diajak ketoko, begitu banyak barang baru dan sangta menarik perhatiannya. Sehingga timbul keinginannya untuk berlari kesana-kemari hanya untuk memenuhi hasrat keingin-tahuannya. Biasanya usia 2-3 tahun adalah puncak keaktifan anak, jika diajak ke took, ia akan berlari kesana-kemari. Perasaannya begitu senang dan bahagia namun ia masih belum bisa mengutarakannya sehingga mereka menunjukkan dengan perilakunya yang aktif bergerak kian-kemari.
Ada beberapa hal yang bisa di lakukan orang tua dalam menghadapi perilaku anak, yaitu :

1.Memahami peran sebagai orang tua
Pernakah kita bersyukur telah menjadi orang tua, dimana ditengah-tengah sekitar kita masih banyak orang yang menginginkan anak, sedangkan kita telah memperoleh karunia terindah dalam kehidupan kita. Untuk itu, salah satu cara bersyukur kita adalah dengan memahami akan peran sebagai orang tua, Hal ini sangatlah penting untuk dipahami karena disinilah awal dari orang tua untuk bisa memahami dan mengerti mengenai dunia anak-anak. Anak-anak yang sangat membutuhkan orang tuanya untuk memperoleh perawatan, pengasuhan, pembimbingan dan pendidikan dari orang tuanya. Bagaimana tugas dan perannya sebagai ayah dan sebagai ibu, sehingga anak-anak bisa merasakan kebahagiaan dan kepercayaan bersama dengan orang tuanya. Dan ini sangat baik sekali karena dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

2.Menerima anak namun tidak dengan perilakunya.
Anak-anak memilki begitu macam keunikan dalam tingkah lakunya, mereka mempunyai dunia yang berbeda dengan orang dewasa . Sebelum mereka mengetahui benar salah mereka hanya melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Jadi, kebiasaan-kebiasaan yang dilihat terus menerus oleh mereka itulah yang membentuk kepribadian mereka. Anak-anak masih masih dalam proses belajar menjadi manusia dewasa. Tingkah lakunya kadangkala sangat menggemaskan bagi orang tua.
Tanpa disadari oleh orang tua, perilaku anak-anak adalah hasil dari daya imajinasinya yang sangat tinggi sehingga ketika mereka melakukan kenakalan-kenakalan yang kita anggap itu kenakalan bagi mereka sebenarnya sedang bermain dengan permainan yang ingin mereka mainkan. Selain itu, anak-anak juga mengalami tahapan perkembangan yang berbeda-beda sesuai dengan usianya. Dan ini akan berkesinambungan untuk keselanjutan perkembangannya. Mereka membutuhkan dasar yang kuat untuk berkembang. Untuk itu sebagai orang tua hendaknya bisa memahami tahapan perkembangan anak, sehingga dalam menangani perilaku anak bisa disesuaian dengan usia perkembangan dan kemampuan anak.

3.Menghadapi dengan kasih sayang dan kelembutan
Dalam menghadapi perilaku anak yang luar biasa aktifnya membutuhkan kesabaran, kelembutan dan kasih sayang dari orang tuanya. Jika perilaku anak bisa diatasi dengan senyuman kenapa harus dengan kemarahan, kalau bisa dengan usapan kenapa harus dengan pukulan, kalau bisa dengan kecupan kenapa harus dengan cubitan. Dengan mengekspresikan kasih sayang dalam menegur kesalahan, anak akan tetap merasa nyaman walaupun mereka melakukan kesalahan, karena mereka masih belum memahami dan mengetahui kesalahannya, yang mereka tahu adalah mereka selalu menginginkan perhatian lebih dari orangtuanya.
Anak-anak akan bahagia jika orang tua menunjukkan ekspresi kasih sayang. Misalnya dengan memeluk, mengusap kepala atau sekadar berbicara dengan lemah lembut. Orang tua harus memiliki kesabaran dalm menghadapi perilaku anak-anak. Kesabaran orangtua memang sangat dituntut ketika mendidik anak jika ingin jiwa mereka stabil dan berkembang dengan sempurna.Kesabaran orangtua terkadang bisa membuat anak mengerti bahwa apa yang dilakukannya adalah tidak benar. Sebaliknya dengan cara kekerasan terkadang anak malah akan semakin melawan dan memberontak.

4.Mendisiplinkan anak dengan strategi
Mendisiplinkan perilaku anak, memang membutuhkan strategi yang tepat dan sesuai dengan anak kita. Banyak cara-cara yang telah dituliskan di berbagai media mengenai kedisiplinan. Namun, sebagai orang tua haruslah secara bijak untuk memilih cara yang sesuai dengan anak-anak kita agar mereka bisa merasakan kebahagiaan dan tidak tertekan dengan berbagai aturan yang akan mengikatnya. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan ketika mengatasi perilaku anak yang kurang menyenangkan:
a.Berbicaralah dengan lembah lembut dan penuh kasih sayang kepada anak. Disiplin dan peraturan harus diterapkan, namun jelaskan dan beritahukan kepada anak dengan bahasa dan sikap tubuh yang dimengerti anak-anak.
b.Anak yang melanggar peraturan harus diberikan penjelasan apa konsekuensi yang akan diperolehnya bila ia melanggar.
c.Saat anak melakukan pelanggaran, jangan menjadi emosi dan larut di dalam kemarahan. Jangan biarkan hati kita dibakar kemarahan, rasa stress, ataupun frustasi karena anak melanggar peraturan yang telah kita tetapkan.
d.Walaupun yang dilakukan anak salah, jangan langsung membentak anak. Karena itu akan melukai perasaannya. Hal itu bisa menyebabkan dendam hingga anak dewasa nanti. Dendam pada anak juga akan memengaruhi sifat dia kelak ketika dewasa. Si kecil akan menjadi orang yang mudah marah dan suka melakukan kekerasan. Ketika orang tua memarahi anak sebenarnya mereka sedang mengajari si anak cara marah. Ketika orang memukuli anaknya sebagai imbalan kenakalan mereka sebenarnya mereka sedang mengajari anak-anak cara memukul.

5.Milikilah waktu untuk diri sendiri
Menghadapi perilaku-perilaku anak yang beraneka ragam, pastinya membuat orang tua, lelah, capek, jenuh, bosan, stress, dll. Untuk itu orang tua perlu memiliki waktu untuk diri sendiri. Pada waktu ini, ayah dan ibu bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang sifatnya relaksasi atau dengan mengerjakan hobi yang bisa mengobati rasa jenuh. Tidak perlu waktu berjam-jam lamanya, mendengarkan musik, membaca buku, olah raga, menelpon teman lama, merangkai bunga, berkebun, makan malam di luar bersama teman, adalah contoh-contoh aktivitas yang bisa dilakukan sehingga bisa membuat otak dan hati orang tua menjadi lebih fresh/segar. Dengan demikian diharapkan orang tua bisa jauh lebih siap dalam menghadapi segala perilaku anak.

Demikianlah sharing kami dalam berbagi pengalaman menjadi orang tua yang cerdas dan kreatif dalam mendidik, mengasuh dan membesarkan buah hati tercinta. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: